Tomoe Gakuen: Sekolah Berbasis Kepribadian

Foto dari Fanita's Blog
Totto-chan : Gadis Cilik di Jendela adalah buku karya penulis Jepang Tetsuko Kuroyanagi tentang masa kecilnya di sekolah Tomoe Gakuen --sekolah alternatif yang didirikan seorang pendidik hebat Sosaku Kobayashi. Buku ini dimulai saat ibunda Totto-chan datang memenuhi panggilan pihak sekolah negeri di mana putrinya belajar.

Daftar dosa putrinya yang dibeberkan ibu guru itu cukup panjang, antara lain membuka dan menutup laci penyimpanan buku sampai ratusan kali setiap hari. Dan memanggil pengamen jalanan yang melintas dekat jendela, lalu meminta mereka memainkan sejumlah lagu. Tentu saja suasana kelas menjadi kacau, karena murid yang lain ikut merubung di jendela.

“Kemarin, Totto-chan berdiri di depan jendela seperti biasa. Saya terus mengajar, mengira dia menunggu para pemusik jalanan itu. Tiba-tiba dia berteriak : Hei, kau lagi ngapain? Dari tempat saya berdiri tidak bisa terlihat siapa yang diajaknya bicara, jadi saya hanya bisa menebak-nebak apa yang sedang terjadi,”tutur si ibu guru dengan wajah gemas.

“Saya jadi penasaran dan mencoba mendengar jawaban, tapi tak ada yang menyahut. Meskipun demikian putri Anda terus berseru : Kau sedang apa? Akhirnya saya pergi ke jendela untuk melihat siapa yang diajaknya bicara. Ketika menjulurkan kepala keluar jendela dan mendongak, saya melihat sepasang burung walet sedang membuat sarang di bawah atap teritisan. Totto-chan berbicara pada sepasang burung walet!”

”Putri Anda mengacaukan kelas saya,” kata wali kelas Totto-chan, tanpa basa-basi. Kekacauan apa gerangan yang bisa dilakukan anak sekecil itu ? “Kesabaran saya benar-benar sudah habis,” ucap ibu guru berwajah manis itu sambil menjatuhkan vonis,”Saya terpaksa meminta Anda memindahkannya ke sekolah lain.”

Saat ia mengetahui bahwa putrinya dikeluarkan dari sekolah dia menyadari bahwa Totto-chan membutuhkan sekolah dimana kebebasan berekspresi diperbolehkan.

Totto-chan tidak pernah tahu kalau dirinya dikeluarkan dari sekolah itu. Mama hanya berkata,”Bagaimana kalau kau pindah ke sekolah baru? Mama dengar ada sekolah yang sangat bagus.”

Mama baru memberitahu Totto-chan mengenai peristiwa “memalukan” itu 14 tahun kemudian, setelah usianya genap 20 tahun. Saat itulah dia merasa bersyukur karena memiliki seorang ibu yang sangat bijaksana.

“Waktu itu bisa saja Mama berkata : apa jadinya kau nanti? Kau sudah dikeluarkan dari satu sekolah. Kalau mereka mengeluarkanmu dari sekolah berikutnya, kau akan sekolah di mana?” tulis Totto-chan setelah dia dewasa.

“Kalau ibuku berkata begitu padaku, aku pasti akan merasa gugup dan merasa diri tak berguna ketika masuk gerbang Tomoe Gakuen pada hari pertamaku di sana. Gerbang yang hidup, berdaun, dan berakar, dan kelas-kelas dalam gerbong kereta api takkan terlihat menyenangkan di mataku,” lanjut Totto-chan sambil menggaris-bawahi,”Betapa beruntungnya aku punya ibu seperti ibuku.”

Saat itu Mama membawa Totto-chan menemui Sosaku Kobayashi, kepala sekolah di sekolah barunya.

Pak Kobayashi menarik kursi ke dekat Totto-chan lalu duduk berhadapan dengan gadis cilik itu. Ketika mereka sudah nyaman, dia berkata,”Sekarang, ceritakan semua tentang dirimu. Ceritakan semua dan apa saja yang ingin kau katakan.”

“Apa saja yang aku suka?” Totto-chan mengira Kepala Sekolah akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawabnya. Ketika dia berkata Totto-chan boleh menceritakan apa saja yang ingin diceritakannya, Totto-chan senang sekali dan langsung berbicara penuh semangat. Ceritanya kacau dan urutannya tidak karuan, tapi semua dikatakannya apa adanya.

Dia bercerita kepada Kobayashi tentang betapa cepatnya kereta yang mereka tumpangi; tentang bagaimana dia minta diperbolehkan menyimpan satu karcis kereta kepada petugas pengumpul karcis, tapi tidak diizinkan; tentang sarang burung walet; tentang Rocky, anjingnya yang berbulu cokelat dan bisa melakukan berbagai keterampilan; tentang bagaimana dia suka memasukkan gunting ke dalam mulutnya waktu di TK dan gurunya melarangnya karena lidahnya bisa tergunting, tapi dia tetap saja melakukannya; tentang bagaimana dia membersit hidung karena Mama memarahinya kalau hidungnya beringus; tentang Papa yang sangat pintar berenang dan menyelam.

Totto-chan sempat terhenti beberapa kali karena kehabisan cerita, tapi dia berusaha terus untuk cerita apa saja. Terakhir dia bercerita mengenai baju-bajunya yang selalu robek, karena dia senang merayap di bawah kawat duri. “Mama tidak suka kerah ini,” kata Totto-chan, sambil menunjukkan kerah bajunya kepada Kepala Sekolah.

Setelah itu, Totto-chan benar-benar kehabisan cerita. Dia berpikir keras, tapi tak bisa menemukan bahan cerita lain. Hal ini membuatnya merasa agak sedih. Untungnya, tepat ketika itu Kepala Sekolah Kuboyashi berdiri, lalu meletakkan tangannya yang besar dan hangat di kepala Totto-chan sambil berkata,”Nah, sekarang kau murid sekolah ini.”

Totto-chan merasa dia telah bertemu dengan orang yang benar-benar disukainya. Belum pernah ada orang yang mau mendengarkan dia sampai berlangsung empat jam seperti Kepala Sekolah. Lebih dari itu, Kuboyashi sama sekali tidak menguap atau tampak bosan. Dia selalu tertarik pada apa yang diceritakan Totto-chan, sama seperti Totto-chan sendiri.

Tidak pernah sebelum atau sejak saat itu ada orang dewasa yang mau mendengarkan Totto-chan bercerita selama empat jam. Tentu saja ketika itu dia tidak tahu bahwa dia dikeluarkan dari sekolah karena gurunya sudah kehabisan akal menghadapinya. Wataknya yang periang dan terkadang suka melamun, membuat Totto-chan berpenampilan polos. Tapi, jauh di dalam hatinya, dia merasa dirinya dianggap aneh dan berbeda dari anak-anak lain. Kuboyashi telah membuatnya merasa aman, hangat dan senang.

Sejak saat itulah hubungan persahabatan dimulai antara guru dan murid. Semua impresi yang didapat dalam pengalamannya di Sekolah Tomoe Gakuen --teman-teman yang dimiliki, pelajaran yang didapat, dan semua kejutan dan hubungan dengan orang-orang di sekolah -- diceritakan melalui sudut pandang seorang anak.

Totto-chan memang sering melakukan perbuatan yang aneh, menjengkelkan dan mencemaskan bagi orang dewasa. Dia suka mengikuti imajinasinya dan bertindak impulsif karena dorongan keingintahuannya.

Anak perempuan kecil itu pernah terkubur semalaman dalam adukan semen. Celana dalamnya selalu sobek setiap pulang sekolah—karena kesenangannya menyuruk di bawah kawat duri dengan gerakan maju-mundur. Dan dia pernah menguras seluruh isi septic tank (bak pembuangan WC) di sekolah, cuma untuk mencari dompet cantiknya yang terjatuh ke tempat gelap yang sangat jorok dan bau itu.

Totto-chan ketika dewasa berkata tentang Gurunya:

"Aku yakin jika sekarang ada sekolah-sekolah seperti Tomoe, kejahatan dan kekerasan yang begitu sering kita dengar sekarang dan banyaknya anak putus sekolah akan jauh berkurang. Di Tomoe tak ada anak yang ingin pulang ke rumah setelah jam pelajaran selesai. Dan di pagi hari, kami tak sabar ingin segera sampai ke sana."

"Dalam kasusku sendiri, sulit bagiku untuk mengukur betapa aku sangat tertolong oleh caranya mengatakan padaku, berulang-ulang,”Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu itu kan ?”"

"Seandainya aku tidak bersekolah di Tomoe dan tidak pernah bertemu Mr. Kobayashi, mungkin aku akan dicap anak nakal, tumbuh tanpa rasa percaya diri, menderita kelainan jiwa dan bingung."

Pernahkah Anda membaca kesan seseorang yang begitu tulus mengagumi dan merasa berhutang budi terhadap gurunya, serta mencintai sekolahnya di masa kecil, seperti diekspresikan Totto-chan di atas? Jarang! Apalagi di Indonesia, dimana sistem pendidikan yang ada justru “membonsai” anak-anak yang kaya imajinasi dan serba ingin tahu seperti Totto-chan–yang dengan gampang dicap “biang masalah di sekolah dan punya kelainan”.

Tentu ada juga murid yang membanggakan almamaternya. Tapi bisa dipastikan, apa yang mereka banggakan cuma hal-hal bersifat fisik dan kapitalistik; misalnya fasilitas serba wah yang dimiliki sekolah/kampusnya, status sebagai sekolah/perguruan tinggi unggulan; sekolah/kampusnya juara basket nasional, dan karena banyak anak orang kaya serta artis tenar di sekolah/kampusnya.

Semua itu tidak ada artinya dibanding Tomoe Gakuen yang dibanggakan Totto-chan, yang telah menyelamatkan dirinya dari "pembantaian" secara sistemik oleh sekolah konvensional. Didirikan oleh guru yang sungguh idealis, Sosaku Kobayashi, keunikan sekolah itu sudah tampak dan terasa sejak di pintu gerbang—berupa dua batang pohon, lengkap dengan ranting dan daun-daunnya. Sebuah pesan yang sangat jelas dan konkret bahwa proses pendidikan harus intim dengan alam.

Tomoe Gakuen didirikan oleh Sosaku Kobayashi di Tokyo pada 1937, beberapa saat setelah ahli pendidikan yang sangat mencintai anak-anak ini pulang dari menimba ilmu di Eropa. Jelas, ini adalah sebuah sekolah eksperimen. Sebenarnya, pada waktu itu Jepang sudah menganut sistem pendidikan yang seragam secara nasional, tapi Tomoe Gakuen bisa tumbuh di luar sistem karena dijalankan secara sembunyi-sembunyi, dan lantaran Kobayashi sendiri adalah tokoh yang sangat dihormati di Departemen Pendidikan.

Kalau dikatakan bahwa Tomoe Gakuen adalah “sekolah buangan”, mungkin Anda yang telah membaca Laskar Pelangi akan segera teringat pada perjuangan anak-anak miskin di Belitung untuk bersekolah, yang dikisahkan dengan sangat mengharukan dalam novel karya Andrea Hirata itu. Tapi ada perbedaannya yang sangat mencolok, dimana problem utama Totto-chan dan para murid Tomoe Gakuen bukanlah kemiskinan, melainkan penolakan oleh sistem pendidikan konvensional yang mencap mereka sebagai “anak bandel, tidak bisa diatur, menyimpang dan biang kerok di sekolah.”

Tapi sebenarnya, keistimewaan Tomoe Gakuen bukan sekadar lantaran sekolah itu bersedia menampung anak-anak yang dikeluarkan dari sekolah lain, termasuk Totto-chan. Bukan pula karena ruang kelasnya yang lain dari pada yang lain, yaitu bekas gerbong kereta api, melainkan sistem pendidikannya yang berbasis kepribadian.

Pembaca dapat merasakan betapa dunia yang biasa-biasa saja diterjemahkan menjadi lingkungan indah tempat berbagai peristiwa menyenangkan penuh semangat terjadi. Pembaca juga dapat melihat dalam peran mereka sebagai orang dewasa, bagaimana Bapak Kobayashi memperkenalkan kegiatan-kegiatan baru untuk menarik minat murid-murid. Seseorang dapat melihat bahwa Bapak Kobayashi adalah seorang yang memahami anak-anak dan peduli pada perkembangan kualitas intektual, fisik, dan mental.

Kepeduliannya pada anak-anak yang cacat fisik dan penekanan bahwa semua murid adalah sama benar-benar luar biasa. Di sekolah ini, murid-murid dituntun untuk menjalani kehidupan yang bahagia, tidak memperdulikan apa yang terjadi di luar sana. Perang Dunia II telah dimulai, namun tanda-tandanya tidak terlihat di sekolah ini. Namun suatu hari sekolah ini dibom dan tidak pernah dibangun kembali, meskipun kepala sekolah berjanji akan membangun sekolah yang lebih baik di masa depan. Janji itu tidak pernah terpenuhi dan inilah akhir dari tahun-tahun Totto-chan sebagai murid di Tomoe Gakuen.

Totto-chan pertamakali diterbitkan di Jepang sebagai sebuah artikel berseri dalam majalah wanita muda ''Kodansha'' bulan Pebruari 1979 sampai Desember 1980.

Artikel-artikel itu kemudian dikumpulkan menjadi buku dan menciptakan sejarah dengan penjualan 4.500.000 kopi hanya dalam satu tahun. Edisi Bahasa Inggrisnya dialihabahasakan oleh Dorothy Britton, diterbikan di Amerika tahun 1982. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa bahasa Arab, bahasa Tionghoa, bahasa Perancis, bahasa Italia, bahasa Jerman, bahasa Korea, bahasa Melayu, bahasa Tagalog, bahasa Vietnam, bahasa Indonesia, bahasa Thai, bahasa Rusia, bahasa Uighur, bahasa Sinhala, bahasa Laos, dan ke dalam banyak bahasa India, termasuk bahasa Hindi, bahasa Gujarat, bahasa Telugu, bahasa Kannada, bahasa Assam, bahasa Tamil, dan bahasa Malayalam.

Mekipun berpuluh tahun berlalu, pesona Totto-chan dan sahabat baiknya kepala sekolah Sosaku Kobayashi tetap mengisi pikiran pembaca. Buku ini sangat baik bagi para guru dan orang tua --mendidik dan sangat menginspirasi. Dunia anak sangatlah indah dan adalah kesalahan besar mengisinya dengan perlakuan tidak adil yang menilai karakter ataupun kreativitas anak hanya dengan satu parameter. Totto-chan yang semula dianggap murid pemberontak dan susah diatur, menemukan keindahan masa kecilnya di Tomoe Gakuen, sekolah kehidupan berbentuk gerbong kereta dan guru tamu seorang petani.

*Dikutip dari MLC.

0 komentar:

Post a Comment

 
bloging tips